PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA

TANTANGAN SMK DI ERA GLOBALISASI

Tinjauan Terhadap Peran Pemerintah Dan Layanan Bimbingan Karier Dalam Mengembangkan Pendidikan Kejuruan

Ringkasan

Sekolah kejuruan di Indonesia pada dasarnya bertujuan menyiapkan siswanya untuk suatu pekerjaan atau jabatan tertentu melalui kegiatan-kegiatan praktis sehingga menjadi terampil dan ahli di bidangnya. Pengetahuan yang diajarkan di sekolah kejuruan adalah cara menjalankan atau prosedur melakukan sebuah pekerjaan. Dalam era globalisasi dan semakin terbukanya pasar dunia, Indonesia semakin dihadapkan pada persaingan yang semakin ketat dan berat. Ketidakmampuan dalam meningkatkan daya saing Sumber Daya Manusia (SDM) nasional akan menyebabkan terpuruknya Indonesia dalam kancah persaingan global. Tulisan ini dibuat untuk merumuskan sebuah usaha mengembangkan pendidikan kejuruan dalam menghadapi tantangan di era globalisasi, dengan meninjau peran pemerintah dan layanan bimbingan karier sebagai bagian dari layanan Bimbingan dan Konseling di sekolah. Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui sejauh mana kondisi pendidikan, khususnya pendidikan kejuruan di Indonesia saat ini dan merumuskan langkah strategis pemerintah dan penyelenggaraan layanan bimbingan karir dalam usaha mengembangkan pendidikan kejuruan.

            Menurut Schippers (1994), mengemukakan bahwa pendidikan kejuruan adalah pendidikan non akademis yang berorientasi pada praktek-praktek dalam bidang pertukangan, bisnis, industri, pertanian, transportasi, pelayanan jasa, dan sebagainya. Dalam Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN) No. 20 Tahun 2003 Pasal 15 menyatakan bahwa pendidikan kejuruan adalah pendidikan menengah yang mempersiapkan peserta didik terutama untuk bekerja dalam bidang tertentu. Dapat dikatakan pendidikan kejuruan (SMK) adalah bagian dari sistem pendidikan nasional yang bertujuan mempersiapkan tenaga yang memiliki keterampilan dan pengetahuan sesuai dengan kebutuhan persyaratan lapangan kerja dan mampu mengembangkan potensi dirinya dalam mengadopsi dan beradaptasi dengan perkembangan teknologi

Metode penulisan dilakukan dengan menggunakan data sekunder yang diperoleh dari berbagai macam literatur, seperti buku, makalah seminar atau jurnal, situs internet, serta hasil-hasil penelitian yang saling berhubungan.

Dengan data sekunder ini, akan disajikan dalam bentuk pemaparan secara deskriptif dan berkaiatan dengan usaha pemerintah dan layanan bimbingan karier sebagai bagian dari layanan  bimbingan dan konseling yang diselenggarakan di sekolah untuk mengembangkan pendidikan kejuruan dalam menghadapi era globalisasi.

Menurut survei Political and Economic Risk Consultant (PERC), kualitas pendidikan di Indonesia berada pada urutan ke-12 dari 12 negara di Asia. Posisi Indonesia berada di bawah Vietnam. Data yang dilaporkan The World Economic Forum Swedia (2000), Indonesia memiliki daya saing yang rendah, yaitu hanya menduduki urutan ke-37 dari 57 negara yang disurvei di dunia. Dan masih menurut survai dari lembaga yang sama Indonesia hanya berpredikat sebagai follower bukan sebagai pemimpin teknologi dari 53 negara di dunia.

Dan berdasarkan data diatas maka dapat dipastikan pula bahwa kualitas penyelenggaraan pendidikan kejuruan di negara kita masih jauh dari kata ideal. Hal ini mengingat jika ditinjau secara sistemik, pendidikan kejuruan pada dasarnya merupakan subsistem dari sistem pendidikan nasional. Tentu sangat mengkhawatirkan jika hal tersebut diatas dikaitkan dengan berbagai tantangan di era globalisasi yang harus terus dihadapi siswa SMK di negeri kita.

Banyak faktor yang menyebabkan rendahnya kualitas penyelenggaraan pendidikan kejuruan saat ini sehingga membuat tantangan yang dihadapi SMK dalam menghadapi era globalisasi ini semakin berat. Diantara permasalahan yang dihadapi adalah: Pertama, Landasan hukum (undang-undang, peraturan pemerintah, dan keputusan menteri) yang mengatur penyelenggaraan jenjang pendidikan menengah belum dilaksanakan secara baik dan konsisten. Implementasi penyelenggaraan pendidikan kejuruan masih kurang didukung kebijakan strategis yang dapat mewujudkan arah dan tujuan yang diharapkan. Kedua, Model dan pengembangan kurikulum SMK masih belum optimal. Dalam pelaksanaanya di lapangan, pengembangan kurikulum dapat disusun dengan baik, namun dalam implementasinya banyak kendala yang dihadapi sekolah dan para guru. Kurikulum yang selalu berubah-ubah juga menunjukkan bahwa belum ada kurikulum yang ideal untuk segala jaman. Ketiga, Dukungan dan peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan SMK masih kurang optimal, khususnya peran dunia usaha dan industri dalam pengembangan pendidikan kejuruan. Keempat, Fasilitas sarana dan prasarana pembelajaran dan praktikum yang kurang memadai untuk pembentukan kompetensi siswa, terutama fasilitas praktikum pada pendidikan kejuruan. Kecilnya anggaran pendidikan saat ini jelas mempengaruhi secara langsung kualitas pendidikan, terutama kemampuan sekolah kejuruan menyediakan fasilitas atau sarana prasarana belajar yang memadai.

Peran pemerintah dalam memasyarakatkan SMK sudah terlihat, jika sebelumnya SMK sempat dipandang sebelah mata, maka saat ini justru sebaliknya, SMK menjadi buruan masyarakat karena menawarkan berbagai jurusan yang menarik dan menjanjikan keterampilan yang memadai untuk langsung terjun ke dunia kerja. Kebijakan pemerintah sendiri terkait sekolah kejuruan adalah menargetkan proporsi 70 persen untuk SMK dan 30  persen untuk SMA hingga 2015. Kebijakan itu secara otomatis mengandung konsekuensi bagi semua daerah untuk mencapai target tersebut. Dampak lain yang juga sangat terasa adalah berkembangnya SMK di semua daerah. Termasuk jurusan-jurusan yang sempat mati suri kembali bangkit dan diminati masyarakat.

Pemerintah sebagai regulator bangsa, khususnya pendidikan nasional harus menyiapkan langkah-langkah strategis agar dapat mengembangkan pendidikan kejuruan yang unggul dan siap bersaing dengan bangsa lain di era globalisasi. Beberapa langkah yang dapat diambil pemerintah untuk mengembangkan pendidikan kejuruan antara lain: Pertama, Pemerintah bersama-sama dengan Industri menyusun dan mendesain kerangka pendidikan kejuruan dan demikian juga pelatihan. Kedua, Mendorong SMK menciptakan kemampuan kerja para lulusannya yang adaptif dengan dunia industri yang mereka miliki. Ketiga, Menetapkan standar nasional dalam sistem pendidikan kejuruan. Kualitas pendidikan kejuruan harus dijamin dengan diterapkannya standar-standar pendidikan dan harus dipatuhi sebagai acuan proses untuk memenuhi kualifikasi standar lulusan yang akan memasuki pasar kerja. Keempat, Mengangkat tenaga pendidikan kejuruan yang memiliki kualifikasi di bidangnya. Para Guru ( tenaga kependidikan kejuruan ) didorong untuk mampu mendesain strategi pembelajaran sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. Kelima, Perlunya pemerintah membentuk suatu Institusi yang dapat melaksanakan dan bertanggungjawab melakukan penelitian dan pengembangan terhadap setiap hasil karya siswa pendidikan kejuruan.

Selain peran pemerintah diatas maka yang tidak dapat dipisahkan dari sistem pendidikan nasional kita adalah peran Guru BK yang notabene bertugas mengembangkan seluruh potensi siswa secara optimal. Dalam konteks pendidikan kejuruan yang paling berperan dan menjadi topik bahasan disini adalah layanan bimbingan karir.

Bimbingan karier tidak hanya sekedar memberikan respon kepada masalah-masalah yang muncul dalam pendidikan kejuruan semata, akan tetapi juga membantu memperoleh pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang diperlukan dalam pekerjaan. Dalam perjalanannya, kesulitan yang dialami siswa dalam memilih dan menentukan karir tidaklah dapat dipungkiri, banyak siswa yang kurang memahami bahwa karir merupakan jalan hidup dalam usaha mengapai kehidupan yang baik dimasa mendatang.

Maka disinilah peran Guru BK melalui penyelenggaraan layanan bimbingan karier harus dimaksimalkan. Selain fungsi pokok dari bimbingan karier yang telah disebutkan diatas, maka seorang konselor dalam memberikan layanan bimbingan karier dapat mengambil langkah sebagai berikut: Pertama, Disarankan kepada para konselor dalam membantu siswa menentukan karir dilakukan secara berkesinambungan dan adanya ketuntasan, sehingga siswa yang mendapat bimbingan dapat memahami dengan pasti kemampuan yang dimilikinya. Kedua, Guru bimbingan dan konseling mengambil langkah preventif kepada siswa yang memiliki masalah dalam pemilihan karir. Ketiga, Menyediakan waktu yang seluas-luasnya kepada siswa baik yang memiliki masalah ataupun yang tidak memiliki masalah untuk mendapatkan layanan bimbingan karier. Keempat, Melalui layanan bimbingan karier hendaknya ditanamkan pula pemahaman bahwa hasil pendidikan adalah insan-insan yg mampu beradaptasi dan berkresasi, bukan semata insan-insan yang bermental pekerja. Tanamkan pula bahwa bangsa ini tidak bisa diubah oleh mereka yang bermental pekerja, tetapi oleh mereka yang memiliki kesadaran diri ( dalam arti sadar terhadap seluruh potensi diri ), sehingga tetap akan mampu bersaing di era globalisasi tanpa harus mengharapkan pekerjaan dari orang lain.

I. PENDAHULUAN.

A. Latar Belakang

Memasuki era global, dunia pendidikan di Indonesia pada saat ini dan yang akan datang masih menghadapi tantangan yang semakin berat serta kompleks. Indonesia harus mampu bersaing dengan negara-negara lain, baik dalam produk, pelayanan, maupun dalam penyaiapan sumber daya manusia. Pendidikan kejuruan dan vokasi sebagai salah satu sub sistem dalam sistem pendidikan nasional diharapkan mampu mempersiapkan dan mengembangkan SDM yang bisa bekerja secara profesional di bidangnya, sekaligus berdaya saing dalam dunia kerja. Namun dalam perjalanannya pendidikan kejuruan tetaplah dihadapkan pada  segenap tantangan, diantaranya adalah perubahan ketenagakerjaan yang begitu cepat, stigma negatif SMK yang masih melekat sehingga menghambat kemajuan pendidikan kejuruan itu sendiri, ketersediaan sarana dan prasarana, dan permasalahan-permasalahan lain yang menuntut segera diatasi ditengah arus globalisasi dewasa ini.

Globalisasi adalah suatu proses tatanan masyarakat yang mendunia dan tidak mengenal batas wilayah. Globalisasi pada hakikatnya adalah suatu proses dari gagasan yang dimunculkan, kemudian ditawarkan untuk diikuti oleh bangsa lain yang akhirnya sampai pada suatu titik kesepakatan bersama dan menjadi pedoman bersama bagi bangsa-bangsa di seluruh dunia (Edison A. Jamli, 2005). Pada era ini setiap negara akan mudah memasuki Indonesia dan berinvestasi di negeri ini sehingga akan membawa pengaruh pula terhadap jumlah lapangan pekerjaan yang tersedia. Era pasar bebas juga merupakan tantangan bagi dunia pendidikan Indonesia, khususnya pendidikan kejuruan dalam mempersiapkan lulusan yang mampu berdaya saing. Untuk menghadapi pasar global maka kebijakan pendidikan nasional harus dapat meningkatkan mutu pendidikan kejuruan, baik akademik maupun non-akademik, dan memperbaiki manajemen pendidikan agar lebih produktif dan efisien serta memberikan akses seluas-luasnya bagi masyarakat untuk mendapatkan pendidikan. Oleh sebab itulah bangsa dan pendidikan kejuruan khususnya dituntut untuk mampu mencetak SDM yang berkualitas dan bermoral yang dipersiapkan untuk terlibat dan berkiprah dalam kancah globalisasi. Tulisan ini dibuat untuk merumuskan sebuah usaha mengembangkan pendidikan kejuruan sekaligus menghadapi tantangan di era globalisasi, dengan meninjau peran pemerintah dan layanan bimbingan karir yang diselenggarakan oleh guru BK di sekolah.

  1. B.     Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diulas sebelumnya, maka dapat ditarik beberapa perumusan masalah agar dapat mengkaji peran pemerintah dan layanan bimbingan karier dalam mengembangkan pendidikan kejuruan. Perumusan masalah tersebut adalah:

  1. Bagaimana realita penyelenggaraan pendidikan kejuruan di Indonesia saat ini  ?
  2. Bagaimana langkah strategis pemerintah dan penyelenggaraan layanan bimbingan karir dalam usaha mengembangkan pendidikan kejuruan ?
  1. C.    Tujuan

Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui kondisi penyelenggaraan pendidikan kejuruan di Indonesia saat ini dan merumuskan langkah strategis pemerintah dan penyelenggaraan layanan bimbingan karir dalam usaha mengembangkan pendidikan kejuruan.

  1. D.      Manfaat

Penulisan Program Kreatifitas Mahasiswa-Gagasan Tertulis ini diharapkan dapat memberikan manfaat, diantaranya:

  1. Memberikan sebuah gagasan baru dalam rangka pengembangan pendidikan kejuruan di Indonesia.
  2. Membantu Guru BK untuk menyelenggarakan layanan bimbingan karir yang tepat dalam rangka usaha pengembangan pendidikan kejuruan.
  3. Memberikan sebuah gagasan baru kepada pemerintah dalam menyusun langkah trategis pengembangan pendidikan kejuruan di Indonesia.
  1. II.                Telaah Pustaka

Pendidikan Kejuruan

Menurut Schippers (1994), mengemukakan bahwa pendidikan kejuruan adalah pendidikan non akademis yang berorientasi pada praktek-praktek dalam bidang pertukangan, bisnis, industri, pertanian, transportasi, pelayanan jasa, dan sebagainya. Dalam Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN) No. 20 tahun 2003 pasal 15 menyatakan bahwa pendidikan kejuruan adalah pendidikan menengah yang mempersiapkan peserta didik terutama untuk bekerja dalam bidang tertentu. Dapat dikatakan pendidikan kejuruan (SMK) adalah bagian dari sistem pendidikan nasional yang bertujuan mempersiapkan tenaga yang memiliki keterampilan dan pengetahuan sesuai dengan kebutuhan persyaratan lapangan kerja dan mampu mengembangkan potensi dirinya dalam mengadopsi dan beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Dalam proses pendidikan kejuruan perlu ditanamkan pada siswa pentingnya penguasaan pengetahuan dan teknologi, keterampilan bekerja, sikap mandiri, efektif dan efisien dan pentingnya keinginan sukses dalam karirnya sepanjang hayat.

UUSPN No. 20 tahun 2003 pasal 15, menyatakan pendidikan menengah kejuruan bertujuan untuk menyiapkan peserta didik terutama untuk bekerja dalam bidang tertentu. Tujuan tersebut dapat dijabarkan lagi oleh Dikmenjur (2003) menjadi tujuan umum dan tujuan khusus, sebagai berikut : Tujuan umum, sebagai bagian dari sistem pendidikan menengah kejuruan SMK bertujuan : (1) menyiapkan peserta didik agar dapat menjalani kehidupan secara layak, (2) meningkatkan keimanan dan ketakwaan peserta didik, (3) menyiapkan peserta didik agar menjadi warga negara yang mandiri dan bertanggung jawab, (4) menyiapkan peserta didik agar memahami dan menghargai keanekaragaman budaya bangsa Indonesia, dan (5) menyiapkan peserta didik agar menerapkan dan memelihara hidup sehat, memiliki wawasan lingkungan, pengetahuan dan seni. Tujuan khusus, SMK bertujuan : (1) menyiapkan peserta didik agar dapat bekerja, baik secara mandiri atau mengisi lapangan pekerjaan yang ada di dunia usaha dan industri sebagai tenaga kerja tingkat menengah, sesuai dengan bidang dan program keahlian yang diminati, (2) membekali peserta didik agar mampu memilih karir, ulet dan gigih dalam berkompetensi dan mampu mengembangkan sikap profesional dalam bidang keahlian yang diminati, dan (3) membekali peserta didik dengan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) agar mampu mengembangkan diri sendiri melalui jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

  1. III.              Metode Penulisan

Metode penulisan dilakukan dengan menggunakan data sekunder yang diperoleh dari berbagai macam literatur, seperti buku, makalah seminar atau jurnal, situs internet, serta hasil-hasil penelitian yang berhubungan dengan usaha pengembangan pendidikan kejuruan. Data sekunder disajikan dalam bentuk pemaparan secara deskriptif dengan mengetengahkan berbagai rujukan yang berkaiatan dengan usaha pengembangan pendidikan kejuruan, selanjutnya dilakukan analisis yang berkaiatan dengan peran pemerintah dan penyelenggaraan layanan bimbingan karir di sekolah dalam usaha mengembangkan pendidikan kejuruan menghadapi tantangan di era globalisasi.

 

  1. IV.              Analisa dan Sintesa
  2. a.      Kondisi Pendidikan Kejuruan di Indonesia

Kualitas pendidikan di Indonesia saat ini sangat memprihatinkan. Ini dibuktikan antara lain dengan data UNESCO (2000) tentang peringkat Indeks Pengembangan Manusia (Human Development Index), yaitu komposisi dari peringkat pencapaian pendidikan, kesehatan, dan penghasilan per kepala yang menunjukkan, bahwa indeks pengembangan manusia Indonesia makin menurun. Di antara 174 negara di dunia, Indonesia menempati urutan ke-102 (1996), ke-99 (1997), ke-105 (1998), dan ke-109 (1999).

Menurut survei Political and Economic Risk Consultant (PERC), kualitas pendidikan di Indonesia berada pada urutan ke-12 dari 12 negara di Asia. Posisi Indonesia berada di bawah Vietnam. Data yang dilaporkan The World Economic Forum Swedia (2000), Indonesia memiliki daya saing yang rendah, yaitu hanya menduduki urutan ke-37 dari 57 negara yang disurvei di dunia. Dan masih menurut survai dari lembaga yang sama Indonesia hanya berpredikat sebagai follower bukan sebagai pemimpin teknologi dari 53 negara di dunia.

Dan berdasarkan data diatas maka dapat dipastikan pula bahwa kualitas penyelenggaraan pendidikan kejuruan di negara kita masih jauh dari kata ideal. Hal ini mengingat jika ditinjau secara sistemik, pendidikan kejuruan pada dasarnya merupakan subsistem dari sistem pendidikan nasional. Tentu sangat mengkhawatirkan jika hal tersebut diatas dikaitkan dengan berbagai tantangan di era globalisasi yang harus terus dihadapi siswa SMK di negeri kita.

Banyak faktor yang menyebabkan rendahnya kualitas penyelenggaraan pendidikan kejuruan saat ini sehingga membuat tantangan yang dihadapi SMK dalam menghadapi era globalisasi ini semakin berat. Diantara permasalahan yang dihadapi adalah:

  1. Landasan hukum (undang-undang, peraturan pemerintah, dan keputusan menteri) yang mengatur penyelenggaraan jenjang pendidikan menengah belum dilaksanakan secara baik dan konsisten. Implementasi penyelenggaraan pendidikan kejuruan masih kurang didukung kebijakan strategis yang dapat mewujudkan arah dan tujuan yang diharapkan. Banyak lulusan SMK yang tidak dapat terserap dunia kerja yang disebabkan ketidaksesuaian tuntutan pasar kerja dengan kompetensi yang dimiliki siswa. Salah satu penyebab terjadinya kondisi ironis ini disebabkan ketidakseimbangan antara landasan hukum dengan perencanaan dan implementasi kebijakan yang ditetapkan. Dalam arti bahwa target capaian yang diiginkan masih terlalu jauh dengan kenyataan yang ada.
  2. Model dan pengembangan kurikulum SMK masih belum optimal. Dalam pelaksanaanya di lapangan, pengembangan kurikulum dapat disusun dengan baik, namun dalam implementasinya banyak kendala yang dihadapi sekolah dan para guru. Kurikulum yang selalu berubah-ubah juga menunjukkan bahwa belum ada kurikulum yang ideal untuk segala jaman.
  3. Dukungan dan peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan SMK masih kurang optimal, khususnya peran dunia usaha dan industri dalam pengembangan pendidikan kejuruan. Tak dapat dipungkiri bahwa stigma negatif SMK yang berkembang di masyarakat, bahwa anak SMK dinilai sebagai siswa yang tidak pandai karena ada anggapan lulusan SMP yang bernilai jelek, SMK sebagai sekolah golongan kedua dalam strata sekolah menengah dan lain sebagainya, sehingga menuntut peran serta masyarakat untuk mengikis semua anggapan itu. Dunia usaha dan industri pun terkesan masih kurang merespon lulusan SMK ketika mereka memasuki dunia kerja sedangkan pada dasarnya program pendidikan kejuruan berorientasi kebutuhan nyata pasar kerja.
  4. Fasilitas sarana dan prasarana pembelajaran dan praktikum yang kurang memadai untuk pembentukan kompetensi siswa, terutama fasilitas praktikum pada pendidikan kejuruan. Kecilnya anggaran pendidikan saat ini jelas mempengaruhi secara langsung kualitas pendidikan, terutama kemampuan sekolah kejuruan menyediakan fasilitas atau sarana prasarana belajar yang memadai.

Semua permasalahan diatas tentunya berakibat terhadap kualitas lulusan SMK yang dihasilkan dan tingkat keterserapan lulusan SMK di dunia kerja. Meskipun pada awalnya tujuan pendidikan kejuruan adalah menghasilkan lulusan yang berdaya saing di dunia kerja namun pada kenyataanya di lapangan masih banyak di temui lulusan SMK yang menjadi pengangguran. Beberapa hal menjadi penyebab tingginya angka pengangguran ini, diantaranya adalah: ketidaksesuaian antara hasil yang dicapai antara pendidikan dengan lapangan kerja, ketidakseimbangan permintaan dan penawaran serta kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang dihasilkan lulusan SMK masih rendah. Kesempatan kerja yang terbatas di era globalisasi telah membuat kompetisi semakin ketat antar pencari kerja dan seringkali mereka melamar dan menerima pekerjaan apa saja meskipun tidak sesuai dengan kualifikasi pendidikannya.

Jika melihat kenyataan diatas maka pantaslah jika SMK di hadapkan pada tantangan yang semakin berat. Dan untuk mengatasi permasalahan tersebut pemerintah diharapkan mampu membuat kebijakan stategis dalam rangka pengembangan pendidikan kejuruan dan tentunya Guru BK sebagai fihak yang berkepentingan dalam pengembangan seluruh potensi siswa secara optimal di sekolah melalui penyelenggaraan layanan bimbingan karir harus terlibat aktif didalamnya.

  1. b.      Peran pemerintah dan layanan bimbingan karier dalam usaha mengembangkan pendidikan kejuruan di Indonesia.

Pemerintah menyadari bahwa pendidikan kejuruan ini sebenarnya memiliki peran penting dalam memenuhi kebutuhan tenaga kerja yang terampil dan mandiri. Hal ini tercermin Dalam Sistem Pendidikan Nasional Indonesia , Pendidikan Kejuruan merupakan salah satu jenis pendidikan yang harus dilaksanakan (Pasal 15 UUSPN No.20/Tahun 2003). Pendidikan kejuruan selayaknya menitikberatkan pembelajaran berbasis kerja, sesuai dengan yang diharapkan oleh dunia usaha dan dunia industry. Akan tetapi kenyataannya bahwa Pendidikan Kejuruan yang selama ini dilaksanakan mempunyai perbandingan yang sangat mencolok antara kemampuan yang diharapkan dunia kerja dengan lulusan yang dihasilkan dunia pendidikan khususnya pendidikan kejuruan.

Peran pemerintah dalam memasyarakatkan SMK sudah terlihat, jika sebelumnya SMK sempat dipandang sebelah mata, maka saat ini justru sebaliknya. SMK menjadi buruan masyarakat karena menawarkan berbagai jurusan yang menarik dan menjanjikan keterampilan yang memadai untuk langsung terjun ke dunia kerja. Kebijakan pemerintah sendiri terkait sekolah kejuruan adalah menargetkan proporsi 70 persen untuk SMK dan 30  persen untuk SMA hingga 2015. Kebijakan itu secara otomatis mengandung konsekuensi bagi semua daerah untuk mencapai target tersebut. Dampak lain yang juga sangat terasa adalah berkembangnya SMK di semua daerah. Termasuk jurusan-jurusan yang sempat mati suri kembali bangkit dan diminati masyarakat.

Namun dalam kenyataanya dilapangan, membuat SMK menjadi semakin di minati saja tidaklah cukup. Masih banyak terobosan baru yang harusnya dilakukan pemerintah untuk mengembangkan SMK kedepannya. Pemerintah seharusnya bisa mencontoh China dan Malaysia yang mendorong produksi dalam negeri dengan memberi banyak insentif. Maka ketika SMK dijembatani industri, bukanlah suatu hal yang mustahil jika mereka mampu memproduksi secara massal hasil karyanya. Bahwa SMK tidak mungkin berdiri sendiri itu adalah sesuatu yang pasti. Mereka membutuhkan bimbingan dan pendampingan intensif dari industri.

Pemerintah pusat dan daerah semestinya menghargai dan mendorong inisiatif dan kreativitas siswa-siswa sekolah menengah kejuruan, seperti perakitan mobil di Solo, Jawa Tengah. Perlu keberpihakan kebijakan pemerintah untuk mengembangkan SMK. Salah satu yang bisa dilakukan pemerintah adalah menciptakan lingkungan kondusif demi perkembangan kreativitas. Karya anak bangsa ini harus diapresiasi dan dihargai orisinalitasnya. Pemerintah harus mengapresiasi lahirnya mobil Kiat Esemka, perakitan laptop di berbagai SMK, yang kini menjadi buah bibir dikalangan masyarakat. Sebuah hasil karya anak bangsa, yang membuat mata pendidikan kini sudah terbuka, lewat slogan ”SMK bisa” kini sudah terbukti nyata, pendidikan yang mengarahkan kepakaran dalam salah satu bidang ternyata hasilnya membanggakan.

Pemerintah sebagai regulator bangsa, khususnya pendidikan nasional harus menyiapkan langkah-langkah strategis agar dapat mengembangkan pendidikan kejuruan yang unggul dan siap bersaing dengan bangsa lain di era globalisasi. Beberapa langkah yang dapat diambil pemerintah untuk mengembangkan pendidikan kejuruan antara lain:

  1. Pemerintah bersama-sama dengan Industri menyusun dan mendesain kerangka pendidikan kejuruan dan demikian juga pelatihan. Kerjasama dapat mencakup pembiayaan dan pengembangan kurikulum dan implementasinya, serta bersama-sama melaksanakan assessment proses dan lulusan pendidikan kejuruan itu. Sehingga setiap siswa dari Pendidikan Kejuruan mengerti dengan apa yang dia pelajari dan bagaimana penerapannya di dunia kerja. Karena apa yang dipelajari di sekolah merupakan kondisi aktual yang ada di dunia Industri atau usaha.
  2. Mendorong SMK menciptakan kemampuan kerja para lulusannya yang adaptif dengan dunia industri yang mereka miliki. Dilakukan melalui suatu bentuk kegiatan pendidikan atau pelatihan kejuruan dengan belajar di dua tempat pembelajaran yaitu di sekolah dan di industri. Kombinasi pembelajaran tersebut harus didesain sedemikian rupa sehingga terjadi sinergi yang sangat baik antara pembelajaran di sekolah dengan pembelajaran di industri.
  3. Menetapkan standar nasional dalam sistem pendidikan kejuruan. Kualitas pendidikan kejuruan harus dijamin dengan diterapkannya standar-standar pendidikan dan harus dipatuhi sebagai acuan proses untuk memenuhi kualifikasi standar lulusan yang akan memasuki pasar kerja. Dengan kualifikasi tersebut, para lulusan dapat memenuhi tuntutan persyaratan penerimaan tenaga kerja. Sehingga rekruitmen tenaga kerja menjadi sangat mudah dengan tersedianya tenaga kerja dengan kualifikasi yang baik.
  4. Mengangkat tenaga pendidikan kejuruan yang memiliki kualifikasi di bidangnya. Para Guru ( tenaga kependidikan kejuruan ) didorong untuk mampu mendesain strategi pembelajaran sesuai dengan kebutuhan dunia kerja.
  5. Perlunya pemerintah membentuk suatu Institusi yang dapat melaksanakan dan bertanggungjawab melakukan penelitian dan pengembangan terhadap setiap hasil karya siswa pendidikan kejuruan. Karena sesungguhnya penulis meyakini bahwa daya saing industri itu sendiri adalah terletak pada sumberdaya manusia yang menguasai pengetahuan dan teknologi. Maka inilah salah satu alasan mengapa pemerintah dan industri harusnya sangat peduli dengan pendidikan.

Kelima langkah diatas hanyalah beberapa dari langkah strategis yang dapat diambil oleh pemerintah Indonesia untuk mengembangkan pendidikan kejuruan di Indonesia. Masih banyak cara yang dapat ditempuh pemerintah untuk menghasilkan lulusan sekolah kejuruan agar memiliki kompetensi dan daya saing yang tinggi dalam menghadapi tantangan di era globalisasi.

Selain peran pemerintah diatas maka yang tidak dapat dipisahkan dari sistem pendidikan nasional kita adalah peran Guru BK yang notabene bertugas mengembangkan seluruh potensi siswa secara optimal. Dalam konteks pendidikan kejuruan yang paling berperan dan menjadi topik bahasan disini adalah layanan bimbingan karir.

Bimbingan karier tidak hanya sekedar memberikan respon kepada masalah-masalah yang muncul dalam pendidikan kejuruan semata, akan tetapi juga membantu memperoleh pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang diperlukan dalam pekerjaan. Penggunaan istilah karier didalamnya terkandung makna pekerjaan dan jabatan sekaligus rangkaian kegiatan dalam mencapai tujuan hidup seseorang. Hattari (1983) menyebutkan bahwa istilah bimbingan karier mengandung konsep yang lebih luas. Bimbingan jabatan menekankan pada keputusan yang menentukan pekerjaan tertentu sedangkan bimbingan karier menitikberatkan pada perencanaan kehidupan seseorang dengan mempertimbangkan keadaan dirinya dengan lingkungannya agar ia memperoleh pandangan yang lebih luas tentang pengaruh dari segala peranan positif yang layak dilaksanakannya dalam masyarakat.

Sementara itu, dalam perspektif pendidikan nasional, pentingnya bimbingan karier sudah mulai dirasakan bersamaan dengan lahirnya gerakan bimbingan dan konseling di Indonesia pada pertengahan tahun 1950-an, berawal dari kebutuhan penjurusan siswa di SMA pada waktu itu. Selanjutnya, pada tahun 1984 bersamaan dengan diberlakukannya Kurikulum 1984, bimbingan karier cukup terasa mendominasi dalam layanan bimbingan dan penyuluhan dan pada tahun 1994, bersamaan dengan perubahan nama bimbingan penyuluhan menjadi bimbingan dan konseling dalam Kurikulum 1994, bimbingan karier ditempatkan sebagai salah bidang bimbingan.

Sampai dengan sekarang bimbingan karier tetap masih merupakan salah satu bidang bimbingan. Dalam konsteks Kurikulum Berbasis Kompetensi, dengan diintegrasikannya Pendidikan Kecakapan Hidup (Life Skill Education) dalam kurikulum sekolah, maka peranan bimbingan karier sungguh menjadi amat penting, khususnya dalam upaya membantu siswa dalam memperoleh kecakapan vokasional (vocational skill), yang merupakan salah jenis kecakapan dalam Pendidikan Kecakapan Hidup (Life Skill Education).

Terkait dengan penjabaran kompetensi dan materi layanan bimbingan dan konseling di SMK, bidang bimbingan karier diarahkan untuk :

  1. Pemantapan pemahaman diri berkenaan dengan kecenderungan karier yang hendak dikembangkan.
  2. Pemantapan orientasi dan informasi karier pada umumnya dan karier yang hendak dikembangkan pada khususnya.
  3. Orientasi dan informasi terhadap dunia kerja dan usaha memperoleh penghasilan untuk memenuhi kebutuhan dan tuntutan hidup berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
  4. Pengenalan berbagai lapangan kerja yang dapat dimasuki tamatan SMK.
  5. Orientasi dan informasi terhadap pendidikan tambahan dan pendidikan yang lebih tinggi, khususnya sesuai dengan karier yang hendak dikembangkan.

Khusus untuk Sekolah Menengah Kejuruan; pelatihan diri untuk keterampilan kejuruan khusus pada lembaga kerja (instansi, perusahaan, industri) sesuai dengan program kurikulum sekolah menengah kejuruan yang bersangkutan. (Muslihudin, dkk, 2004).

Dalam perjalanannya, kesulitan yang dialami siswa dalam memilih dan menentukan karir tidaklah dapat dipungkiri, banyak siswa yang kurang memahami bahwa karir merupakan jalan hidup dalam usaha mengapai kehidupan yang baik dimasa mendatang. Siswa SMK tidak hanya dihadapkan pada masih rendahnya kualitas pendidikan dan tantangan dunia kerja di era globalisasi semata, namun dua hal yang nyata yang harus dihadapi mereka adalah masih adanya stigmatisasi negatif terhadap citra SMK dan mental yang tertanam dalam diri siswa bahwa SMK selalu dapat mempersiapkan orang-orang yang siap kerja semata. Maka disinilah peran Guru BK melalui penyelenggaraan layanan bimbingan karier harus dimaksimalkan. Selain fungsi pokok dari bimbingan karier yang telah disebutkan diatas, maka seorang konselor dalam memberikan layanan bimbingan karier dapat mengambil langkah sebagai berikut:

  1. Disarankan kepada para konselor dalam membantu siswa menentukan karir dilakukan secara berkesinambungan dan adanya ketuntasan, sehingga siswa yang mendapat bimbingan dapat memahami dengan pasti kemampuan yang dimilikinya
  2. Guru bimbingan dan konseling hendaknya senantiasa mengambil langkah preventif kepada siswa yang memiliki masalah dalam pemilihan karir. Terutama dalam menghadapi stigmatisasi negatif terhadap citra SMK, diantaranya: sekolah kejuruan masih dianggap sebagai sekolah kelas dua, menjadi pilihan anak-anak dari keluarga tidak mampu, dan lulusannya misalnya teknisi, mekanik, hanya setara dengan pekerja kelas rendah. Untuk mengikis anggapan itu semua, kiranya harus ditanamkan pemahaman yang benar terhadap siswa melalui pemberian motivasi dan semangat bahwa sekarang telah banyak karya siswa SMK yang mengharumkan nama bangsa sehingga semua anggapan itu tidak ada relevansinya dengan keadaan terkini dan masa depan lulusan SMK.
  3. Menyediakan waktu yang seluas-luasnya kepada siswa baik yang memiliki masalah ataupun yang tidak memiliki masalah untuk mendapatkan layanan bimbingan karier.
  4. Melalui layanan bimbingan karier hendaknya ditanamkan pula pemahaman bahwa hasil pendidikan adalah insan-insan yg mampu beradaptasi dan berkresasi, bukan semata insan-insan yang bermental pekerja. Lulusan SMK tidak harus/pasti mendapatkan pekerjaan, tetapi mereka juga harus mampu menciptakan pekerjaan bagi dirinya sendiri. Tanamkan pula bahwa bangsa ini tidak bisa diubah oleh mereka yang bermental pekerja, tetapi oleh mereka yg memiliki kesadaran diri ( dlm arti sadar terhadap seluruh potensi diri ), sehingga tetap akan mampu bersaing di era globalisasi tanpa harus mengharapkan pekerjaan dari orang lain.

Kelima langkah diatas hanyalah beberapa dari langkah yang dapat diambil oleh konselor sebagai penyelenggara layanan bimbingan karier di sekolah untuk ikut serta mengembangkan pendidikan kejuruan di Indonesia. Masih banyak cara yang dapat ditempuh konselor untuk menyelenggarakan layanan bimbingan karier yang optimal. Dan hal ini sejalan dengan fungsi Bimbingan  dan Konseling untuk mengembangkan seluruh potensi diri secara optimal sebagai bekal hidup manusia sepanjang hayat.

  1. V.                Kesimpulan dan Saran

Dengan segenap permasalahan yang dialami dunia pendidikan kita umumnya dan pendidikan kejuruan kita khususnya, harus diakui bahwa tantangan SMK di era globalisasi ini sangatlah berat. Dan tantangan itu tidak hanya perlu dijawab dengan mencari pembenaran sebagai akibat dari fenomena globalisasi semata, dimana mau tidak mau kita harus memberikan akses dan peluang yang sama kepada semua pihak, termasuk pihak asing untuk terlibat dalam berbagai percaturan nasional maupun regional di berbagai bidang berikut dengan segala konsekuensinya. Lebih dari itu pemerintah dan bimbingan konseling yang berkepentingan terhadap pengembangan seluruh petensi siswa disekolah melalui layanan bimbingan karier harus bersama-sama mengusahakan langkah-langkah pengembangan pendidikan kejuruan di negeri ini.

Pendidikan kejuruan dikembangkan berdasar pada tuntutan dunia kerja, yaitu dunia usaha dan dunia industri yang berkembang di masyarakat. Pendidikan menengah kejuruan memiliki peran untuk menyiapkan peserta didik agar siap bekerja, baik bekerja secara mandiri (wiraswasta) maupun mengisi lowongan pekerjaan yang ada. Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) sebagai salah satu institusi yang menyiapkan tenaga kerja, dituntut mampu menghasilkan lulusan sebagaimana yang diharapkan dunia kerja. Tenaga kerja yang dibutuhkan adalah sumber daya manusia yang memiliki kompetensi sesuai dengan bidang pekerjaannya, memiliki daya adaptasi dan daya saing yang tinggi di dunia kerja.

Pemerintah dengan dunia industri dan kalangan pendidik harus secara kolaboratif mengembangkan usaha untuk memajukan pendidikan kejuruan, khususnya dalam usaha menghasilkan output yang berdaya saing dan berkompeten di bidangnya. Karena sesungguhnya daya saing industri itu sendiri adalah terletak pada sumberdaya manusia yang menguasai pengetahuan dan teknologi. Maka inilah salah satu alasan mengapa pemerintah dan industri harusnya sangat peduli dengan pendidikan, agar pendidikan kejuruan mampu menghasilkan lulusan yang siap bersaing di era globalisasi.

DAFTAR PUSTAKA

http://wakhinuddin.wordpress.com/2009/07/21/pendidikan-kejuruan/ [11 Januari 2012 ]

http://triananur.wordpress.com/2010/09/24/masalah-pendidikan-di-indonesia-dan-solusinya/ [11 Januari 2012]

http://smkfuture.blogspot.com/2011/02/rekonstruksi-pendidikan-vokasi-smk.html [11 januari2012]

Nachrowi, D. Nachrowi., 2001. Analisis Sumber Daya Manusia, Otonomi Daerah dan Pengembangan Wilayah dalam Tiga Pilar Pengembangan Wilayah. Pusat Pengkajian Kebijakan Teknologi Pengembangan

http://duddyarisandi.wordpress.com/tag/kelompok-pengembangan-pendidikan-kejuruan/ [11 Januari 2012]

http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/02/07/konsep-bimbingan-karier/ [11 Januari 2012]

Prayitno H. Dan Eman Amti,1999, Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling,Rineka Cipta, Jakarta

Sukardi Ketut Dewa, 1984, Bimbingan karir di sekolah, Ghalia Indonesia, Jakarta

http://aniendriani.blogspot.com/2011/03/peran-bimbingan-dan-konseling-karir.html [11 Januari 2012]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s